Dewi Embun Pagi
Aku masih berada dalam terpuruknya setahun yang lalu yang
kelam setelah keingkaran janji yang membuatku layu bak bunga yang tak
mendapatkan sinar mentari, aku adalah sisa yang terbuang setelah sari ku
terhisap habis, jiwaku kelam harapku sirna jiwaku yang hampir mati karna
nelangsa cinta yang aku dapati, hanya joe seorang sahabat yang slalu menemani
dan memotivasi dan mulai membuka jalan yang hampir tak ada celah setitik pun..
Joe : sudahlah kawan tak usah kau berkeluh kesah dari derita
yang tak ada gunanya ini, mungkin sekarang dia telah tertawa berserakan harta
bermandi mutiara, sedangkan engkau hanya terkapar tak berdaya ,meratapi
kekejaman cinta yang menyiksa, engkau jelas kalah dari bunuh diri mu sendiri
jika masih sikap mu begini
Aku : apalah arti hidup tanpa hadirnya sang pujaan hati joe,
engkau taukan berapa besar cintaku padanya?
Joe : yah aku sangat tau , tapi layak kah cinta itu hanya
diperjuangkan sebelah pihak , justru cinta itu mesti sejalan dengan perasaan ,
jika hanya kau yang pertahankan cinta lalu apa peran dari kekasihmu annisa, apa
ia hanya menerima kucuran cinta tapi tak dapat mencurahkan cintanya padamu,
sudah lah rul?
Aku : lalu aku harus
bagaimana joe?
Joe: engkau masih layak dapatkan cinta yang lebih baik,
bangkitlah dan buktikan bah engkau mampu berdiri dan terbang dengan sendiri,
engkau bisa menjadi yang terbaik dan semua hal akan ber hujung pada suatu hal
yang baik pula insyaallah aku yakin banyak wanita yang lebih baik menunggu mu
dari pada hanya seorang annisa.
Aku: baiklah joe terimakasih kawan sekiranya engkau telah
membuka cakrawala pikiranku teman, aku yang hampir mati esok akan mulai bangkin
besok aku akan hijrah sma seperti yang nabi lakukan, demi masa depan yang lebih
baik didepan aku akan berangkat menuju jakarta mencari suasana yang mungkin
bisa menghilangkan kenanganku dengan annisa disini, akan ku cari perjalanan
terbaik yang pernah kulakukan..
Maka arul pun berangkat meninggalkan kenangan buruk yang
merundungnya sehingga layu bak bunga yang tak pernah merasakan sang surya,
menuju masa depan yang mungkin gemilang atau bahkan semakin malang. Jakarta
tanah rantawan yang menjadi sasaran pemukiman, tanah metropolitan yang tak
lekang dari himpunan spesies sosial
untuk sekedar mencari seonggok kehidupan, atau merubah nasib dari nol
besar menjadi nol kecil, entahlah terlalu canggung untuk menceritan kehidupan
ibu kota yang kadang mengenakan dan mengerikan, dua kemungkinan yang tak bisa
dipisahkan.
Bersambung....